Stress Test Dalam Manajemen Risiko : Pengertian Umum
Stress Test Dalam Manajemen Risiko : Pengertian Umum

I. Pendahuluan

Stress test adalah metode evaluasi yang digunakan untuk menilai ketahanan suatu sistem atau aplikasi terhadap kondisi ekstrem atau tekanan yang tidak biasa.

Dalam konteks manajemen risiko, stress test memainkan peran krusial karena membantu organisasi mengidentifikasi potensi kerentanan yang mungkin tidak terlihat dalam kondisi normal.

Dengan mensimulasikan skenario yang jarang terjadi namun berpotensi memiliki dampak yang besar, pengujian yang dilakukan memungkinkan organisasi untuk mempersiapkan dan merespons dengan lebih efektif terhadap berbagai risiko.

Pengertian Stress Test Dalam Manajemen Risiko

Tujuan Artikel

Artikel ini bertujuan untuk memberikan pemahaman mendalam tentang apa itu stress test dalam manajemen risiko, mengapa hal ini penting, serta langkah-langkah praktis yang dapat diambil untuk melaksanakannya secara efektif.

Melalui panduan ini, pembaca akan mendapatkan wawasan mengenai bagaimana stress test dapat digunakan sebagai alat strategis untuk meningkatkan ketahanan dan keandalan sistem manajemen risiko di organisasi mereka.

II. Pengertian Stress Test dalam Manajemen Risiko

II.1. Definisi Stress Test:

Stress test adalah proses evaluasi yang digunakan untuk menilai bagaimana sistem, proses, atau aplikasi akan bertahan di bawah kondisi ekstrem atau tidak biasa.

Tujuan utamanya adalah untuk mengidentifikasi batas-batas operasional dan kelemahan potensial yang mungkin tidak terlihat selama operasi normal.

Dalam konteks manajemen risiko, pengujian ini bertujuan memeriksa ketahanan suatu sistem terhadap berbagai skenario stres, seperti fluktuasi pasar yang tiba-tiba, gangguan teknologi, atau situasi darurat lainnya.

II.2. Peran Stress Test:

Stress test memiliki peran penting dalam manajemen risiko dengan beberapa cara utama:

  1. Identifikasi Risiko: Dengan mensimulasikan kondisi ekstrem, pengujian ini membantu mengidentifikasi potensi risiko yang mungkin tidak terdeteksi dalam pengujian rutin. Ini memungkinkan organisasi untuk mengenali dan memahami berbagai ancaman yang dapat mempengaruhi stabilitas dan operasional mereka.
  2. Evaluasi Ketahanan Sistem: Pengujian ini memberikan wawasan tentang bagaimana sistem akan merespons di bawah tekanan. Ini membantu menentukan apakah sistem tersebut cukup tangguh untuk bertahan dalam situasi sulit dan jika ada area yang perlu diperkuat.
  3. Perencanaan Kontingensi: Hasil dari pengujian dapat digunakan untuk mengembangkan rencana kontingensi dan strategi mitigasi risiko. Dengan mengetahui titik lemah, organisasi dapat merancang langkah-langkah pencegahan untuk mengurangi dampak negatif dari kejadian yang tidak terduga.
  4. Peningkatan Kepercayaan Pemangku Kepentingan: Melakukan pengujian secara teratur dan transparan menunjukkan komitmen organisasi terhadap manajemen risiko yang proaktif. Ini dapat meningkatkan kepercayaan pemangku kepentingan, termasuk investor, pelanggan, dan regulator.

Dengan demikian, stress test adalah alat yang esensial dalam mengelola risiko secara efektif, memastikan bahwa organisasi siap menghadapi berbagai tantangan dan menjaga kontinuitas operasional.

III. Mengapa Stress Test Penting dalam Manajemen Risiko

Setelah kita mengerti peranan Stress Test maka pada bagian ini kita akan membahas lebih dalam mengapa hal tersebut penting dalam Manajemen Risiko.

III.1. Identifikasi Risiko:

Stress test memainkan peran penting dalam identifikasi risiko dengan memungkinkan organisasi untuk mengeksplorasi potensi kerentanan yang mungkin tidak terdeteksi selama operasi normal.

Dengan mensimulasikan kondisi ekstrem, pengujian yang dilakukan akan membantu mengungkap titik lemah dalam sistem, proses, atau aplikasi.

Misalnya, dalam sebuah bank, pengujian dapat menunjukkan bagaimana portofolio investasi akan terpengaruh oleh perubahan suku bunga yang drastis atau krisis keuangan.

Dengan mengidentifikasi risiko-risiko ini, organisasi dapat mengambil langkah proaktif untuk mengelola dan memitigasi ancaman sebelum menjadi masalah besar.

III.2. Simulasi Skenario Ekstrem:

Stress test memungkinkan organisasi untuk mensimulasikan skenario ekstrem yang jarang terjadi namun berpotensi memiliki dampak signifikan.

Contoh skenario tersebut bisa termasuk bencana alam, serangan siber besar-besaran, atau keruntuhan pasar finansial.

Melalui simulasi ini, organisasi dapat mengevaluasi bagaimana sistem mereka akan bertahan dalam situasi-situasi yang sangat menantang.

Misalnya, sebuah perusahaan teknologi mungkin menjalankan pengujian untuk melihat bagaimana infrastruktur IT mereka akan merespons lonjakan tiba-tiba dalam trafik pengguna selama peluncuran produk besar.

Hasil dari simulasi ini memberikan wawasan kritis tentang batasan dan daya tahan sistem yang diuji.

III.3. Keputusan Manajerial yang Lebih Baik:

Hasil dari stress test memberikan data yang kaya dan mendetail yang dapat digunakan oleh manajemen untuk membuat keputusan yang lebih baik dalam mengelola risiko.

Dengan memahami bagaimana sistem merespons di bawah tekanan, manajer dapat mengembangkan strategi yang lebih efektif untuk mengurangi kerentanan dan memperkuat ketahanan.

Misalnya, jika hasil pengujian menunjukkan bahwa perusahaan rentan terhadap fluktuasi pasar tertentu, manajemen dapat memutuskan untuk mendiversifikasi portofolio investasi atau meningkatkan cadangan likuiditas.

Selain itu, hasil pengujian dapat membantu dalam perencanaan anggaran, alokasi sumber daya, dan pengembangan kebijakan risiko yang lebih komprehensif.

Dengan demikian, pengujian yang dilakukan tidak hanya membantu dalam identifikasi risiko, tetapi juga mendukung pembuatan keputusan strategis yang lebih informasional dan berbasis data.

IV. Jenis-jenis Stress Test

IV.1. Stress Test Sensitivitas:

Stress test sensitivitas adalah jenis pengujian yang mengukur respons sistem terhadap perubahan satu atau beberapa variabel tertentu.

Tujuannya adalah untuk memahami bagaimana perubahan variabel ini, baik secara individu maupun kombinasi, mempengaruhi kinerja dan stabilitas sistem.

Misalnya, dalam sektor keuangan, pengujian sensitivitas bisa digunakan untuk melihat bagaimana portofolio investasi bereaksi terhadap perubahan suku bunga atau nilai tukar mata uang.

Dalam konteks teknologi, pengujian sensitivitas bisa menguji bagaimana aplikasi merespons peningkatan beban pengguna atau variasi dalam jumlah data yang diproses.

Hasil dari stress test sensitivitas membantu mengidentifikasi variabel kritis yang dapat menyebabkan gangguan atau kerugian signifikan jika terjadi perubahan mendadak.

IV.2. Stress Test Skenario:

Stress test skenario menggunakan skenario khusus yang realistis untuk menguji ketahanan sistem.

Skenario ini biasanya mencakup kondisi ekstrem atau kejadian langka yang memiliki dampak besar terhadap operasional.

Contohnya termasuk krisis ekonomi, bencana alam, serangan siber besar-besaran, atau kegagalan sistem utama.

Dalam industri perbankan, pengujian berbasis skenario dapat melibatkan simulasi resesi ekonomi atau keruntuhan pasar saham.

Dalam dunia teknologi, skenario dapat mencakup serangan DDoS (Distributed Denial of Service) atau pemadaman jaringan global.

Pengujian terhadap suatu skenario akan memberikan wawasan tentang bagaimana sistem berfungsi di bawah tekanan yang sangat tinggi dan membantu organisasi mempersiapkan rencana tanggap darurat yang efektif.

IV.3. Stress Test Reversal:

Stress test reversal adalah jenis pengujian yang menguji respons sistem terhadap perubahan variabel dalam arah berlawanan dari kondisi normal.

Ini bertujuan untuk melihat bagaimana sistem bereaksi ketika kondisi eksternal atau internal berubah secara drastis dan tiba-tiba kembali ke keadaan sebelumnya.

Misalnya, dalam pasar keuangan, pengujian reversal bisa menguji bagaimana portofolio bereaksi terhadap kenaikan suku bunga yang tajam dan kemudian penurunan kembali.

Dalam sistem IT, ini bisa mencakup peningkatan besar dalam penggunaan sumber daya yang kemudian kembali normal.

Pengujian ini penting untuk memahami apakah sistem memiliki fleksibilitas yang cukup untuk beradaptasi dengan perubahan mendadak dan memastikan bahwa tidak ada efek samping negatif dari pemulihan cepat ke kondisi normal.

Dengan memahami berbagai jenis stress test ini, organisasi dapat memilih metode yang paling sesuai dengan kebutuhan mereka, memastikan bahwa mereka dapat mengidentifikasi dan mengelola risiko dengan lebih baik, serta meningkatkan ketahanan sistem mereka terhadap berbagai situasi ekstrem.

V. Langkah-langkah Melakukan Stress Test

Langkah 1: Identifikasi Tujuan dan Lingkup

Menentukan tujuan dan lingkup pengujian adalah langkah awal yang sangat penting.

Tujuan yang jelas akan memandu keseluruhan proses dan memastikan bahwa pengujian fokus pada area yang paling kritis.

Apakah tujuannya untuk menguji ketahanan sistem IT terhadap lonjakan trafik, atau untuk mengevaluasi dampak perubahan suku bunga pada portofolio keuangan?

Lingkup stress test juga perlu didefinisikan dengan baik, mencakup batasan-batasan seperti komponen sistem yang akan diuji, durasi pengujian, dan skenario yang akan disimulasikan.

Dengan menetapkan tujuan dan lingkup yang jelas, organisasi dapat memastikan bahwa pengujian yang dilakukan akan memberikan wawasan yang relevan dan bermanfaat.

Langkah 2: Pilih Skenario Pengujian

Memilih skenario yang relevan dan realistis adalah kunci keberhasilan stress test.

Skenario ini harus mencerminkan kondisi ekstrem yang mungkin dihadapi oleh organisasi.

Misalnya, untuk perusahaan teknologi, skenario bisa melibatkan serangan siber besar-besaran atau peningkatan trafik pengguna secara tiba-tiba.

Untuk perusahaan keuangan, skenario bisa mencakup krisis ekonomi global atau perubahan regulasi yang signifikan.

Skenario yang dipilih harus mencerminkan risiko nyata yang dapat mempengaruhi operasional dan stabilitas organisasi, sehingga hasil pengujian akan lebih valid dan aplikatif.

Langkah 3: Kumpulkan Data yang Diperlukan

Data yang akurat dan komprehensif sangat penting untuk melakukan stress test yang efektif.

Data ini bisa mencakup informasi historis, parameter operasional, dan data lingkungan yang relevan dengan skenario yang akan diuji.

Misalnya, untuk menguji ketahanan sistem IT, data yang dibutuhkan bisa mencakup volume trafik, kapasitas server, dan pola penggunaan jaringan.

Untuk stress test keuangan, data yang dibutuhkan bisa meliputi harga aset, suku bunga, dan data ekonomi makro.

Pengumpulan data yang tepat akan memastikan bahwa pengujian telah didasarkan pada kondisi yang realistis dan menghasilkan wawasan yang dapat diandalkan.

Langkah 4: Lakukan Pengujian

Setelah tujuan, skenario, dan data sudah siap, langkah selanjutnya adalah melaksanakan stress test.

Ini melibatkan penerapan skenario yang telah dipilih ke dalam sistem atau proses yang diuji.

Pengujian ini harus dilakukan dengan hati-hati untuk memastikan bahwa dampaknya dapat diukur dengan akurat tanpa merusak sistem yang sedang diuji.

Misalnya, dalam pengujian sistem IT, ini bisa melibatkan peningkatan trafik secara bertahap sambil memantau respons sistem.

Dalam pengujian keuangan, ini bisa melibatkan simulasi perubahan pasar dan analisis dampaknya terhadap portofolio.

Langkah 5: Analisis Hasil Pengujian

Setelah pengujian selesai, langkah berikutnya adalah menganalisis hasilnya.

Analisis ini bertujuan untuk mengidentifikasi titik kelemahan dan area yang perlu diperbaiki.

Data yang dikumpulkan selama pengujian harus dianalisis untuk menentukan bagaimana sistem merespons kondisi ekstrem.

Apakah ada penurunan kinerja yang signifikan?

Apakah ada titik kegagalan yang teridentifikasi?

Analisis ini akan memberikan wawasan yang berharga tentang ketahanan sistem dan membantu dalam mengidentifikasi langkah-langkah mitigasi yang diperlukan.

Langkah 6: Buat Rekomendasi

Berdasarkan hasil analisis, langkah terakhir adalah membuat rekomendasi untuk meningkatkan manajemen risiko.

Rekomendasi ini harus spesifik dan praktis, berdasarkan temuan dari pengujian yang telah dilakukan.

Misalnya, jika hasil pengujian menunjukkan bahwa server tidak mampu menangani lonjakan trafik, rekomendasinya bisa mencakup peningkatan kapasitas server atau pengoptimalan arsitektur jaringan.

Jika stress test keuangan menunjukkan kerentanan terhadap perubahan suku bunga, rekomendasinya bisa mencakup diversifikasi portofolio atau strategi lindung nilai.

Rekomendasi yang jelas dan berbasis data akan membantu organisasi dalam memperkuat ketahanan dan kesiapan mereka menghadapi kondisi ekstrem.

Dengan mengikuti langkah-langkah ini, organisasi dapat melakukan pengujian yang efektif, mendapatkan wawasan yang berharga, dan mengambil tindakan proaktif untuk mengelola risiko dengan lebih baik.

VI. Studi Kasus: Implementasi Stress Test dalam Manajemen Risiko

Studi Kasus Nyata: Kebakaran Hutan Australia

Pada tahun 2019 dan 2020, Australia mengalami salah satu musim kebakaran hutan terburuk dalam sejarahnya.

Kebakaran hutan yang meluas dan parah menyebabkan kerugian besar, baik dalam hal ekonomi maupun lingkungan.

Dalam menghadapi situasi ini, Pemerintah Australia melakukan pengujian yang luas untuk mengevaluasi respons dan ketahanan sistem darurat negara terhadap bencana alam yang parah.

Langkah-langkah yang Diambil:

  1. Identifikasi Tujuan dan Lingkup: Pemerintah Australia menetapkan tujuan untuk mengevaluasi kesiapan dan respon sistem darurat negara terhadap kebakaran hutan yang luas dan parah. Lingkup stress test mencakup evaluasi infrastruktur darurat, rencana tanggap darurat, koordinasi antar-lembaga, dan kesiapan masyarakat.
  2. Pilih Skenario Pengujian: Skenario yang dipilih mencakup simulasi kebakaran hutan yang meluas di berbagai wilayah Australia, termasuk daerah perkotaan dan pedesaan. Ini mencakup evaluasi dampak langsung kebakaran terhadap pemukiman, infrastruktur kritis, lingkungan, dan kesehatan masyarakat.
  3. Kumpulkan Data yang Diperlukan: Data yang diperlukan mencakup data historis tentang kebakaran hutan, peta risiko kebakaran, kapasitas evakuasi, sumber daya darurat yang tersedia, dan kemampuan respon darurat. Data ini digunakan untuk mensimulasikan skenario kebakaran hutan yang realistis.
  4. Lakukan Pengujian: Pengujian dilakukan dengan mensimulasikan skenario kebakaran hutan menggunakan model matematika dan perangkat lunak simulasi. Ini mencakup evaluasi respons darurat, evakuasi penduduk, penempatan petugas pemadam kebakaran, dan penggunaan sumber daya darurat lainnya.
  5. Analisis Hasil Pengujian: Hasil dari pengujian digunakan untuk menganalisis kelemahan dan kekuatan sistem darurat negara dalam menghadapi kebakaran hutan yang parah. Temuan dari pengujian digunakan untuk mengidentifikasi area yang perlu diperbaiki dan meningkatkan kesiapan darurat.
  6. Buat Rekomendasi: Berdasarkan hasil analisis, pemerintah membuat rekomendasi untuk meningkatkan manajemen risiko dan kesiapan darurat negara dalam menghadapi kebakaran hutan. Rekomendasi ini mencakup peningkatan pemantauan kebakaran, peningkatan sumber daya pemadam kebakaran, pengembangan rencana tanggap darurat yang lebih adaptif, dan peningkatan kesadaran masyarakat akan bahaya kebakaran hutan.

Pelajaran yang Dipetik:

  1. Pentingnya Kesiapan Darurat: Stress test menunjukkan pentingnya memiliki sistem darurat yang siap digunakan dan responsif dalam menghadapi bencana alam yang besar dan kompleks.
  2. Koordinasi antar-lembaga: Evaluasi koordinasi antar-lembaga dan kolaborasi dalam menangani kebakaran hutan menyoroti pentingnya komunikasi yang efektif dan koordinasi yang baik dalam situasi darurat.
  3. Pentingnya Kesiapan Masyarakat: Stress test menekankan pentingnya meningkatkan kesadaran masyarakat akan bahaya kebakaran hutan dan kesiapan mereka dalam menghadapi evakuasi dan situasi darurat lainnya.
  4. Adaptasi terhadap Perubahan Lingkungan: Stress test menunjukkan perlunya mengadaptasi strategi manajemen risiko dan respons darurat terhadap perubahan lingkungan, termasuk perubahan pola kebakaran hutan yang disebabkan oleh perubahan iklim global.

Studi kasus ini menunjukkan bagaimana stress test digunakan dalam konteks manajemen risiko bencana alam yang nyata untuk meningkatkan kesiapan dan respons sistem darurat negara.

aplikasi manajemen risiko

VII. Tips dan Praktik Terbaik dalam Melakukan Stress Test

VII.1. Rutin Melakukan Stress Test

Konsistensi dalam melakukan stress test sangat penting untuk menjaga kesiapan dan ketahanan sistem terhadap berbagai risiko.

Dengan menjadwalkan pengujian secara rutin, organisasi dapat mengidentifikasi dan mengatasi potensi kerentanan sebelum menjadi masalah yang serius.

Jangka waktu antara stress test harus disesuaikan dengan kebutuhan dan kompleksitas organisasi, tetapi umumnya direkomendasikan untuk melakukan pengujian ini setidaknya satu atau dua kali setahun.

VII.2. Menggunakan Alat dan Teknologi yang Tepat

Pemilihan alat dan teknologi yang tepat sangat penting dalam melakukan stress test yang efektif.

Ada berbagai perangkat lunak dan platform yang dirancang khusus untuk membantu organisasi dalam menjalankan stress test, termasuk alat simulasi, analisis data, dan pemantauan performa.

Misalkan alat yang umum digunakan untuk pengujian dalam dunia IT antara lain Apache JMeter untuk pengujian kinerja aplikasi web, LoadRunner untuk pengujian beban, dan Selenium untuk pengujian otomatis.

VII.3. Kolaborasi Tim

Kolaborasi tim yang efektif adalah kunci keberhasilan dalam melakukan stress test.

Pastikan semua anggota tim terlibat dari awal hingga akhir proses, termasuk perencanaan, pelaksanaan, dan analisis hasil.

Setiap anggota tim harus memiliki pemahaman yang jelas tentang tujuan, lingkup, dan skenario pengujian.

Komunikasi terbuka dan kolaborasi antar departemen atau divisi juga penting untuk memastikan bahwa semua aspek sistem dan proses diuji dengan baik.

Dengan menerapkan praktik terbaik ini, organisasi dapat memastikan bahwa pengujian yang mereka lakukan efektif dalam mengidentifikasi dan mengelola risiko dengan lebih baik, serta meningkatkan ketahanan sistem mereka terhadap berbagai kondisi ekstrem.

VIII. Kesimpulan

Dalam artikel ini, kita telah membahas tentang stress test dalam konteks manajemen risiko.

Kita telah mempelajari mengenai stress test dan pentingnya dalam mengidentifikasi dan mengelola risiko.

Kita juga telah bersama-sama memahami langkah-langkah untuk melakukan stress test secara efektif, mulai dari menentukan tujuan hingga menganalisis hasil pengujian.

Melalui artikel ini kita juga telah mengidentifikasi berbagai jenis stress test dan menyajikan studi kasus nyata yang menunjukkan implementasi praktis dari konsep ini.

Pentingnya Stress Test

Stress test memainkan peran penting dalam manajemen risiko dengan membantu organisasi mengidentifikasi potensi kerentanan, menguji ketahanan sistem, dan membuat keputusan yang lebih baik dalam mengelola risiko.

Dengan mensimulasikan kondisi ekstrem, pengujian tersebut memungkinkan organisasi untuk mempersiapkan diri terhadap berbagai risiko yang mungkin terjadi, sehingga meningkatkan ketahanan dan keandalan sistem mereka.

Kami mendorong anda untuk mulai mengimplementasikan stress test dalam organisasi anda.

Dengan melakukan pengujian secara teratur dan konsisten, organisasi dapat mengidentifikasi dan mengelola risiko dengan lebih baik, serta memastikan kesiapan mereka menghadapi berbagai tantangan yang mungkin timbul.

Langkah ini merupakan investasi yang penting dalam memastikan kesinambungan operasional dan keberlanjutan jangka panjang dari organisasi mereka.

IX. FAQ (Pertanyaan yang Sering Diajukan)

Apa itu Stress Test dalam Manajemen Risiko?

Stress test dalam manajemen risiko adalah proses evaluasi yang digunakan untuk menilai ketahanan dan respons suatu sistem, proses, atau aplikasi terhadap kondisi ekstrem atau tidak biasa.

Tujuan utamanya adalah untuk mengidentifikasi batas-batas operasional, menguji ketahanan, dan mengelola risiko secara efektif.

Mengapa Stress Test Penting?

Stress test penting dalam manajemen risiko karena membantu organisasi mengidentifikasi potensi kerentanan dan menguji ketahanan sistem terhadap berbagai situasi stres.

Dengan melakukan pengujian secara teratur, organisasi dapat meningkatkan kesiapan mereka dalam menghadapi risiko dan memastikan kesinambungan operasional.

Bagaimana Cara Melakukan Stress Test?

Cara melakukan stress test melibatkan beberapa langkah, mulai dari menentukan tujuan dan lingkup, memilih skenario pengujian yang relevan, hingga melakukan pengujian praktis dan menganalisis hasilnya.

Setiap langkah harus dijalankan dengan hati-hati dan berdasarkan pada data yang akurat untuk memastikan bahwa pengujian yang telah dilakukan memberikan wawasan yang berharga bagi organisasi.

Alat Apa yang Dapat Digunakan untuk Stress Test?

Ada berbagai alat dan teknologi yang dapat digunakan untuk melakukan pengujian, tergantung pada jenis sistem atau aplikasi yang diuji.

Beberapa contoh alat yang umum digunakan termasuk Apache JMeter untuk pengujian kinerja aplikasi web, LoadRunner untuk pengujian beban, dan Selenium untuk pengujian otomatis.

Pemilihan alat harus didasarkan pada kebutuhan dan lingkungan pengujian yang spesifik.

X. Rekomendasi Buku dan Artikel Tentang Stress Test

  1. Stress Testing: Approaches, Methods and Applications, Edited by Akhtar Siddique and Iftekhar Hasan, First Published 29 May 2013.
  2. The Essentials of Risk Management, Second Edition, by Michael Crouhy, Dan Galai, Robert Mark, 06 December 2013.
  3. Stress Testing for Risk Control Under Bassel II, by Dimitris N. Chorafas, First Published 03 January 2007.

BUTUH APLIKASI MANAJEMEN RISIKO YANG KOMPREHENSIF, SESUAI DENGAN ISO 31000 DAN PERATURAN PERUNDANGAN INDONESIA ? GUNAKAN ERMS. KONSULTASI LEBIH LANJUT SILAHKAN HUBUNGI KAMI MELALUI LINK INI

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *

 - 
Arabic
 - 
ar
Bengali
 - 
bn
German
 - 
de
English
 - 
en
French
 - 
fr
Hindi
 - 
hi
Indonesian
 - 
id
Portuguese
 - 
pt
Russian
 - 
ru
Spanish
 - 
es

Ingin konsultasi lebih lanjut ? hubungi kami melalui riskindo57@gmail.com atau 0858-8338-2887