Risiko Inheren Pada Manajemen Risiko
Risiko Inheren Pada Manajemen Risiko

Risiko Inheren merupakan salah satu hal yang perlu diperhatikan dalam Manajemen Risiko karena dapat mempengaruhi hasil akhir dari penilaian kinerja perusahaan.

Oleh karena itu melalui artikel ini kita akan sama-sama belajar tentang apa itu Risiko Inheren, bagaimana cara menilai Risiko Inheren, Faktor-Faktor yang mempengaruhi Risiko Inheren dalam bisnis, juga cara mengurangi Risiko Inheren.

Mengenal Definisi Risiko Inheren

Risiko Inheren adalah risiko yang ada pada suatu entitas atau situasi sebelum dilakukan tindakan mitigasi atau tindakan pengendalian.

Risiko Inheren ini menunjukkan tingkat risiko potensial yang terkait dengan suatu aktivitas, proses, produk atau layanan, atau situasi yang bisa saja terjadi.

Melalui penjelasan tersebut maka dapat juga dipahami bahwa Risiko Inheren adalah Risiko dasar atau risiko bawaan yang melekat pada suatu kegiatan atau situasi.

APLIKASI ERMS RISKINDO.COM

Bagaimana Menilai Risiko Inherent

Metodologi yang digunakan untuk menilai Risiko Inherent bervariasi tergantung pada jenis aktivitas, proyek, bisnis atau situasi yang akan dianalisis.

Beberapa metodologi yang dapat digunakan dalam menilai risiko Inheren antara lain adalah analisis SWOT, analisis FMEA dan analisis Bow-Tie.

Menilai Risiko Inherent Dengan Analisis SWOT

Analisis SWOT adalah metodologi yang digunakan untuk menilai Risiko Inherent dengan memperhitungkan Kekuatan (Strength), Kelemahan (Weakness), Peluang (Opportunity), dan Ancaman (Threat) yang terkait dengan suatu aktivitas , proyek, bisnis atau situasi.

Lebih lanjut langkah-langkah dalam menggunakan analisis SWOT untuk menilai risiko Inheren dapat dijelaskan sebagai berikut :

  1. Identifikasi Kekuatan , yaitu melakukan Identifikasi faktor-faktor yang membuat suatu aktivitas, proyek, bisnis atau situasi memiliki keunggulan atau kekuatan.
  2. Mengidentifikasi Kelemahan , yaitu melakukan identifikasi faktor-faktor yang menjadi hambatan atau kelemahan dalam suatu aktivitas, proyek, bisnis atau situasi.
  3. Identifikasi Peluang , yaitu melakukan identifikasi faktor-faktor eksternal yang dapat dimanfaatkan untuk memperkuat posisi suatu aktivitas, proyek, bisnis atau situasi.
  4. Identifikasi Ancaman , yaitu melakukan identifikasi faktor-faktor ekternal yang dapat memberikan pengaruh negatif suatu aktivitas, proyek, bisnis atau situasi.
  5. Analisis Risiko , setelah identifikasi kekuatan, kelemahan, peluang dan ancaman, selanjutnya adalah melakukan analisis risiko dengan memperhitungkan faktor-faktor yang dapat mempengaruhi tingkat risiko inheren.
  6. Penilaian Risiko, setelah melakukan analisis risiko, selanjutnya adalah melakukan penilaian risiko inheren dengan menentukan tingkat risiko yang mendasar untuk setiap risiko yang diidentifikasi.

Menilai Risiko Inherent Menggunakan Analisis FMEA

FMEA merupakan singkatan dari Failure Modes and Effects Analysis.

Analisis FMEA adalah metodologi yang digunakan untuk menilai dan mengurangi risiko inheren dengan langkah-langkah sebagai berikut :

  1. Identifikasi Mode Kegagalan, yaitu melakukan proses identifikasi untuk semua mode atau cara bagaimana sebuah sistem, proses atau produk dapat gagal atau terpengaruh kinerjanya.
  2. Identifikasi Dampak, selanjutnya akan diidentifikasi semua dampak yang mungkin terjadi jika sistem, proses atau produk tersebut gagal.
  3. Penilaian Tingkat Risiko, pada tahap berikutnya untuk setiap mode kegagalan tersebut akan dinilai tingkat risikonya dengan memperhitungkan probabilitas kegagalan dan dampak yang dapat terjadi.
  4. Menentukan Ranking Risiko, setelah dilakukan penilaian kemudian urutkan risiko-risiko tersebut berdasarkan tingkat risikonya dan fokuskan pada risiko dengan tingkat risiko tertinggi.
  5. Penyelesaian, temukan dan implementasikan solusi untuk mengurangi risiko atau memperbaiki kinerja sistem, proses atau produk.
  6. Monitoring dan Evaluasi, tahap terakhir adalah monitoring sistem, proses atau produk dan kemudian evaluasi hasil dari solusi yang diterapkan.

Menilai Risiko Inheren Dengan Analisis Bow-Tie (Dasi Kupu-Kupu)

Analisis Bow-Tie adalah metodologi yang digunakan untuk menilai dan mengurangi risiko Inheren dengan menggunakan visualisasi grafis yang mempresentasikan hubungan antara berbagai faktor yang mempengaruhi.

Faktor-faktor tersebut bisa berupa Sumber Risiko, Mode Kegagalan dan Dampaknya.

Analisis Bow-Tie sendiri memiliki beberapa bagian penting , yaitu :

  • Threat , merupakan faktor yang menyebabkan risiko terjadi
  • Barrier, merupakan faktor yang mencegah atau mengurangi risiko terjadi
  • Consequence, merupakan dampak yang mungkin dihadapi jika risiko benar terjadi
  • Control, tindakan yang diambil untuk mengurangi atau meminimalkan risiko.

Berikut adalah langkah-langkah untuk melakukan analisa Bow-Tie :

  1. Identifikasi Risiko, identifikasi semua risiko yang mungkin terjadi dalam suatu sistem, proses atau produk.
  2. Identifikasi Faktor Risiko, identifikasi semua faktor yang mempengaruhi risiko terjadi seperti faktor internal dan eksternal.
  3. Identifikasi Faktor Pencegah, identifikasi semua faktor yang mencegah atau mengurangi risiko terjadi seperti barrier, prosedur atau peralatan.
  4. Identifikasi Dampak, Identifikasi semua dampak yang mungkin terjadi jika risiko terjadi seperti kerugian finansial, kerusakan lingkungan atau kerugian nyawa.
  5. Pembuatan Diagram Bow-Tie, gambarlah diagram Bow-Tie yang menunjukkan hubungan antara faktor-faktor risiko, barrier dan dampak.
  6. Evaluasi dan Tindakan, lakukan evaluasi untuk diagram bow-tie tadi dan identifikasi tindakan yang perlu diambil untuk mengurangi atau meminimalkan risiko.

Mungkin sampai sini ada yang bertanya, bagaimana cara menggambar diagram bow-tie ?

Berikut adalah langkah-langkah untuk menggambar diagram bow-tie untuk Risiko Inheren ;

  • Pertama buatlah kotak atau lingkaran di tengah untuk mewakili risiko utama yang ingin dianalisis.
  • Kemudian identifikasi faktor-faktor yang memicu risiko dan hubungkan mereka ke risiko utama tadi dengan menggunakan garis atau panah. Ini akan menjadi 'Threats' dalam diagram bow-tie.
  • Identifikasi faktor-faktor yang meminimalkan atau mencegah risiko dan hubungkan juga ke risiko utama dengan menggunakan garis atau panah. Ini akan menjadi 'Barriers' dalam diagram bow-tie.
  • Identifikasi dampak potensial dari risiko dan hubungkan mereka ke risiko utama dengan garis atau panah. Ini akan menjadi 'consequences' dalam diagram bow-tie.
  • Tambahkan tindakan pencegahan atau mitigasi untuk mengurangi risiko, kemudian hubungkan juga dengan risiko utama dengan garis atau panah. Ini akan menjadi 'controls' dalam diagram bow-tie.
  • Tambahkan deskripsi atau label untuk setiap bagian dalam lingkaran bow-tie untuk membuat informasi lebih jelas.

Contoh bentuk diagram bow-tie untuk hal ini dapat dilihat dalam gambar di bawah ini :

CONTOH BOW-TIE.png

Faktor-Faktor Yang Mempengaruhi Risiko Inheren Dalam Bisnis

Dalam melakukan identifikasi Risiko Inheren , penting bagi kita untuk mempertimbangkan beberapa faktor untuk memastikan bahwa risiko inheren dalam bisnis dapat dikelola dengan efektif.

Berikut beberapa faktor tersebut :

  1. Faktor Eksternal, contohnya ; perubahan pasar, peraturan pemerintah, perubahan teknologi, dan situasi ekonomi.
  2. Faktor Internal, contohnya ; kebijakan dan prosedur perusahaan, manajemen perusahaan, ataupun struktur organisasi perusahaan.
  3. Faktor Operasional, contohnya ; proses bisnis, sistem teknologi, dan sumber daya manusia.
  4. Faktor Lingkungan, contohnya ; iklim, bencana alam, ataupun kondisi lingkungan sekitar.
  5. Faktor Keuangan, contohnya ; kondisi ekonomi, harga pasar, ataupun keadaan keuangan perusahaan.
  6. Faktor Reputasi, contohnya ; citra perusahaan juga merupakan salah satu faktor yang bisa mempengaruhi risiko inheren.

itulah beberapa contoh faktor-faktor umum yang mempengaruhi risiko inheren.

Mungkin masih ada faktor-faktor lainnya yang lebih spesifik , hal tersebut bisa ditambahkan sesuai kondisi dan keperluan organisasi.

Cara Mengurangi Risiko Inheren

Dalam penerapan Manajemen Risiko, risiko bawaan inilah yang biasanya menjadi target untuk dilakukan tindakan kontrol untuk dapat dikendalikan dampaknya.

Berikut adalah beberapa langkah untuk mengurangi risiko tersebut dalam bisnis :

  1. Langkah pertama adalah dengan melakukan identifikasi risiko dan evaluasi dampak potensial pada perusahaan.
  2. Selanjutnya melakukan Implementasi kontrol proaktif seperti prosedur, peraturan dan sistem teknologi untuk meminimalkan risiko.
  3. Untuk lebih mengurangi dampak , maka kita juga bisa membagi risiko ke beberapa area bisnis (Diversifikasi Portofolio)
  4. Lakukan monitoring dan review terus menerus untuk memastikan bahwa usaha perusahaan untuk meminimalkan dampak risiko efektif.
  5. Tetapkan kebijakan dan prosedur yang jelas
  6. Lakukan pelatihan sehingga perusahaan akan memiliki SDM yang terlatih dan memahami risiko inheren dalam bisnis untuk dapat membantu mengurangi risiko.
  7. Sebagai langkah terakhir dapat melakukan kerjasama dan mitigasi risiko dengan pihak lain untuk membantu meminimalkan risiko inheren dalam bisnis.

Peran Risiko Inheren Dalam Manajemen Risiko

Peran Risiko Inherent dalam Manajemen Risiko bisa dikatakan cukup signifikan.

Hal ini karena Risiko Inherent menggambarkan risiko yang mendasar yang dapat digunakan sebagai landasan atas apa yang harus dikelola dalam bisnis.

Risiko Inherent juga dapat membantu dalam menentukan prioritas risiko yang harus dikelola dan memastikan bahwa sumber daya yang tersedia digunakan dengan efektif.

Ini juga menjadi dasar dalam analisis risiko dan membantu dalam memahami dampak potensial dari risiko tersebut untuk selanjutnya dapat menentukan tindakan mitigasi yang paling efektif.

Pada akhirnya risiko inherent akan dapat memastikan transparasi dan akuntabilitas dalam manajemen risiko.

PERAN RISIKO INHEREN dalam manajemen risiko.png

Contoh Risiko Inheren Dalam Berbagai Bidang

Pada akhir pembahasan , mari kita sama-sama lihat beberapa contoh risiko inherent dalam berbagai bidang yang ada.

Dalam bidang keuangan, risiko dasar yang melekat biasanya meliputi risiko pasar, risiko kredit, risiko operasional, dan risiko reputasi.

Contoh lainnya dalam bidang perawatan kesehatan, risiko-risikonya antara lain risiko kesalahan medis, risiko kontaminasi, risiko bahaya bagi pasien dan staf.

Pada bidang kontruksi memiliki risiko dasar yang erat hubungannya dengan keamanan pekerja, risiko kerusakan lingkungan, ataupun risiko kegagalan proyek.

Sedangkan dalam Teknologi Informasi contoh Risiko Inheren meliputi risiko keamanan data, risiko kegagalan sistem, dan risiko kecurangan oleh pihak eksternal.

Itu hanya sedikit contoh-contoh Inherent yang ada, sebenarnya masih sangat banyak risiko-risiko dasar ini dalam berbagai bidang.

Kesimpulan dan Penutup

Sebagai penutup artikel ini , kita dapat membuat kesimpulan bahwa risiko inheren adalah bagian integral dari setiap bisnis.

Risiko ini harus diterima dan dikelola secara efektif untuk memastikan kesuksesan jangka panjang.

Penilaian risiko dasar ini bisa menggunakan berbagai analisis seperti FMEA ataupun Bow-Tie Diagram dan sangat penting untuk menerapkan strategi yang tepat untuk memastikan bahwa bisnis dapat beroperasi dengan aman dan menghasilkan hasil yang diharapkan.

Oleh karena itu Manajemen Risiko sangat memperhatikan Risiko Inheren dan memastikan bahwa risiko ini dikelola secara efektif dan terus menerus.

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *

 - 
Arabic
 - 
ar
Bengali
 - 
bn
German
 - 
de
English
 - 
en
French
 - 
fr
Hindi
 - 
hi
Indonesian
 - 
id
Portuguese
 - 
pt
Russian
 - 
ru
Spanish
 - 
es

Ingin konsultasi lebih lanjut ? hubungi kami melalui riskindo57@gmail.com atau 0858-8338-2887